The Blind Dragon (#1 dari 4)

    Chapter 1: Storm

    Namaku Zen. Walaupun namaku terdengar bagus, aku ini jelek. Aku seekor naga putih dewasa, namun tinggiku hanya tiga meter sementara saudara-saudara seklanku memiliki tinggi berkisar delapan hingga enam belas meter. Tubuhku juga kurus, sangat kontras dengan cakar-cakarku yang setebal batang pohon. Sisikku berwarna putih, tapi aku yakin warnanya pasti telah menjadi kusam. Suraiku juga kumal dan pastinya acak-acakan, dan sayapku rompal-rompal.

    Aku memiliki sepasang tanduk panjang yang tadinya merupakan kebanggaanku, namun sekarang salah satunya telah patah dipotong manusia. Tandukku direbut, begitupun harga diri dan kekuatanku sebagai seekor naga. Bukan salahku jika aku terlahir buta hingga tidak mampu mempertahankan diriku sendiri, bukan salah ibuku pula, yang mampu menelurkan saudara-saudaraku dengan mata normal. Namun tetap saja aku merasakan penolakan dari rasku sendiri, yah aku beban sih.

    Jadi aku pergi meninggalkan kelompokku. Aku tidak tahu tujuanku, tapi aku tahu dunia ini dipenuhi tempat-tempat ajaib dan makhluk-makhluk dengan kemampuan sihir yang unik. Mungkin saja, aku dapat menemukan sesuatu yang dapat menyembuhkan mataku.

    Untuk pertama kalinya aku terbang tanpa berada di belakang naga-naga lain dan hal ini ternyata menjadi bencana. Memang aku bisa merasakan arah angin dan menghindari benda-benda dengan indera-inderaku, namun seluruh indera-inderaku itu tidak bisa apa-apa ketika aku pertama kalinya berada di tengah badai. Telingaku terasa sakit mendengar raungan-raungan angin sementara aku tidak mampu menentukan arah akibat tidak menentunya aliran angin.

    Dengan susah payah aku berusaha melipat kedua sayapku yang berkibar tak menentu. Kupaksa untuk membengkokan jari-jari sayapku walau jari-jari itu menjadi berderak-derak dan nyeri. Ketika aku telah berhasil menutup sayap kiriku, aku beralih ke sayap kanan, namun sayap kiri kembali terbuka. Beberapa kali kejadian yang sama berulang dan akupun pasrah sejenak mengumpulkan tenaga. Kucoba lagi, kali ini kulipat keduanya bersamaan, lebih sulit, namun akhirnya aku berhasil melipat keduanya. Tanpa ditunda, tubuhku langsung meluncur jatuh, punggung terlebih dahulu. Aku berjuang untuk tetap melipat sayap dan membalikkan badanku.

    Entah seberapa jauh tanah di bawah. Dengan tidak adanya penglihatan, aku terpaksa membiarkan diriku terhempas ke bawah. Sayap ini dan tulang-tulangku yang ringan didesain sedemikian rupa untuk meluncur dengan bantuan angin, jika aku membukanya, tentu angin akan menghempasku ke atas lagi.

    Aku merasakan perubahan udara, kurasa itu berarti daratan telah dekat. Kubuka sayapku perlahan-lahan, segera angin menerpanya dan menghempasku ke belakang. Namun aku tidak terhempas ke tengah udara melainkan menabrak bebatuan, mungkin tebing. Punggungku terasa sakit dan tanpa ampun angin kembali menghempasku ke bebatuan yang terasa seperti sebuah tebing. Segera sebelum aku terhempas ketiga kalinya, kucengkram tebing itu. Angin mencengkram kedua sayapku, berusaha menarikku lepas. Perlahan kupindahkan satu-persatu cengkramanku, agar dapat memegang batu lebih erat. Rasanya berjam-jam sebelum aku dapat memeluk tebing batu tersebut dan melipat kedua sayapku. Aku berdiam disana diantara amukan angin, walau tubuhku memar-memar dan terluka, walau keempat kakiku mati rasa, walau aku kelelahan dan kelaparan...

    Entah berapa lama aku telah berpegangan pada tebing itu sehingga aku demikian lelahnya, aku menemukan diriku melayang jatuh. Sebelum aku tersadar penuh dan membuka sayapku, aku menubruk tanah dengan punggung terlebih dahulu. Sakitnya luar biasa hingga rasanya aku akan kehilangan kesadaran. Benturan itu mengenai sayap kananku dan seketika aku menyadari tulang utama di sayap itu remuk. Aku diam terkulai di tempat, nafasku berat, dan ekorku menghentak-hentak tanah, menahan sakit. Rasanya aku tidak mau berusaha bangun.

    Awalnya terdengar suara jangkrik dan hewan-hewan hutan tidak jauh di kiriku, kuterka ada hutan di arah sana. Lalu beberapa saat kemudian terdengar hiruk pikuk bahasa dari depanku, yang kukenal sebagai bahasa manusia. Aku ingat pertama kali aku bertemu mereka, ketidak berdayaanku ketika tandukku, simbol kebangganku sebagai seekor naga direbut. Aku panik dan berusaha mengepakkan sayapku, rasa nyeri menyentakku namun sayap kananku tetap terkulai.

    Hiruk pikuk itu makin dekat dan akupun meneriakkan lengkinganku yang mampu membuat hewan-hewan kecil terjatuh. Seketika tempat itu sunyi senyap dan aku segera berlari tertatih-tatih ke arah kiri, dengan asal-asalan kutembus pepohonan walau semak duri menambah lukaku. Aku tidak berhenti, hingga tiba-tiba akar-akaran membuat tubuhku terpelanting dan kesadarankupun hilang.

    Bersambung...

    Comments

    Post new comment

    • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
    • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <i>
    • Lines and paragraphs break automatically.

    More information about formatting options

    CAPTCHA
    This question is for prevent automated spam submissions.

    ©Amethyst Orchard 2004 - 2008.